Murka
June 16th, 2010 by call me NEngkau begitu marah pada ku
hingga kau ambil semua dari ku.
Aku tak pernah mengambil apapun dari mu
karena semua itu milik ku
dan Tuhan pun murka…
Engkau begitu marah pada ku
hingga kau ambil semua dari ku.
Aku tak pernah mengambil apapun dari mu
karena semua itu milik ku
dan Tuhan pun murka…
Email, tab, password, Log in
What’s on your mind ?
emhh….
kapan kamu putus ?
Saya emang gak pernah ngomong suka sama dia. Saya ngomongnya sama Tuhan. Saya pikir Tuhan yang mau ngomong sama dia, tapi nyatanya tidak. Ach… Cinta memang bukan urusan Tuhan.
Ardy is became in a Relationship
Kamar ini masih terlihat berantakan, setelah sebelumnya, terjadi pergumulan hebat antara aku dan dia, tanpa jeda yang menghalalkan kami untuk sejenak mengambil nafas, yang ada hanya leguhan yang tercekat di kerongkongan kami berdua, ”Makasih ya sayang”, kecupnya di kening ku, ”sama-sama” balas ku, sambil mengancingkan kemeja atasnya. “Aku pulang dulu ya”, nafasku tersenggal, aku tersadar pada sebuah kenyataan, dia punya tempat untuk pulang, bukan pada ku, bukan di tempat ku. “Hati-hati ya di rumah”, ia mengecup ku. Rumah, ia punya rumah, ada seorang perempuan lain yang sedang menunggunya, dan mungkin setibanya ia, mereka akan melakukan hal yang sama seperti apa yang kami tadi lakukan . Dan aku telah tidur dengannya, tanpa bayaran, hanya sebuah kecupan, aku murah, bahkan lebih murah dari PSK Pantura.
Aku terpaksa menulis ini, hanya agar kamu mau mampir kesini
~N~
”Gila ya lo Ka’, lo pinter, jebolan kampus ngetop, bisa kerja, cakep, masa mo cabut dari kantor lo yang caur itu aja susah bener?, Sekar, Lo nya kali yang pilih-pilih kerjaan, makanya sampe sekarang lo belom bisa dapat tawaran kerjaan baru.”
”Ya elah, milih-milih apaan siy Na’, gue pilih paling kerjaan yang emang sesuai sama kemampuan gue kali, itu kan wajar. Gue dah usaha nyari terus kok, tapi gue tetap ngejalanin kerjaan gue di kantor caur gue ini Kirana. Yah, mungkin aja emang gue belum pantas aja kerja ditempat lain, kalo di kantor gue sekarang aja, sebenarnya gue belum profesional banget kerjanya. Lo ndiri Man’, kapan lo mau punya momongan ?, istri lo cakep, sifatnya keibuan, karir lo sama istri lo cemerlang, punya bisnis keluarga pula, financial lo ok banget, keluarga lo harmonis, tunggu apa lagi? Lo jangan ngikutin hasrat lo buat ngejar karir, gak bakal ada habisnya Arman’, umur lo sama istri lo bakal nambah terus.
”Halah, siapa juga yang nahan-nahan punya momongan, gue sama bini gue udah tanding mulu tiap hari. Semua usaha dah kita jalanin, apalagi doa dan minta sama Tuhan yang maha memberi segala keputusan. Emang gue belum pantas aja untuk dikasih kepercayaan seorang anak, yang memang dititipin ke kita untuk bisa kita urus, kita didik, kita ayomi, yang nanti pada akhirnya kita yang bakal bertanggung jawab sama Tuhan atas apa yang udah kita ajarin ke dia. Lo tau sendiri kan, gue sama istri gue aja masih sering egois satu sama lain, Ngurus diri kita berdua aja kita masih belum becus, masih cuek, apalagi ini ngurus anak, yang nggak cuma perlu makan minum doang, tapi perlu pendidikan, pemahaman, kasih sayang. Mungkin Tuhan tau, kita berdua aja belum sayang sama diri kita sendiri, gimana mo ngasih limpahan kasih sayang buat anak kita nanti. Gue yakin, kalo emang gue sama istri gue dah pantas buat dititipin anak, pasti saatnya akan tiba juga. Ka’, karir lo oke, tampang lo, jauh dari kata jelek, lo baik, trus lo nyari apa lagi?, kenapa lo gak cari cowok, yang mapan, dan bisa mengayomi diri lo nantinya. Gak usah pilih-pilih yang high quality Ka’, nobody prefect.”
“Boro-boro milih kali Man’, kriteria gue mah gak tinggi-tinggi amat, yang penting beriman, takut sama Tuhan, dan yang pasti mau bekerja, dan gak perlu jadi pekerja keras, gue cuma mau dia itu jadi pekerja cerdas. Gak muluk-muluk kan?, Ah, tapi emang mungkin gue belum pantas aja untuk berumah tangga. Lo kan tau, gue klo dah kerja, lupa segalanya, jangankan mikirin orang lain untuk gue urus, kadang ngurus diri gue sendiri aja gue cuek. Gue masih suka egois, gak peduli sama orang lain, kadar kesetiaan gue masih diragukan, ada yang bagus dikit pasti gue lirik. Mungkin Tuhan nunggu saat yang tepat buat gue untuk bisa dapet pendamping, saat gue dah bisa ngatur diri gue, saat gue butuh orang lain untuk ada disamping gue, saat gue bisa mencurahkan rasa sayang gue dan kepedulian gue sama orang itu.
Mungkin saja kita memang belum pantas untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, apa yang kita harapkan untuk bisa kita miliki, untuk memiliki apa yang orang lain miliki, untuk merasakan apa yang orang lain rasakan terhadap apa keinginan kita tersebut. Mungkin memang belum saatnya kita mengecap manisnya keinginan kita, atau mungkin memang keinginan kita itu bukanlah keinginan yang pantas kita minta, tapi hanya sebatas keinginan, dan sesungguhnya kita tidak membutuhkannya. Mungkin saja Tuhan akan menggantikan keinginan kita itu dengan sesuatu yang lebih kita butuhkan, yang lebih baik lagi untuk kita miliki, lebih baik lagi untuk kita jalani, lebih baik lagi untuk kita jaga dengan sepenuh hati.
Kulirik jam tangan yang tergeletak di meja samping tempat tidur. ”sudah jam 10 di’, baiknya kamu pulang aja.” ujar ku kepada lelaki setengah telanjang yang masih terduduk dibalik pintu kayu. Kakinya masih tertekuk, kepalanya menatap langit-langit dan kedua telapaknya saling mengatup menutupi mulut hingga hidungnya, nafasnya terus saja dihembuskan sedalam-dalamnya. ”Maaf sayang aku gak bisa ngelakuin ini semua. Bukan ini yang aku mau” Ia menatap tanpa beranjak dari duduknya. Ku tarik selimut untuk menutupi tubuh ku, ”Lantas mau mu apa?” hardik ku tertahan. Ia bersimpuh dihadapan ku, ”Yang aku mau cuma satu, menggulung mendung dalam hatimu”. Aku bangkit dan ia pun bangkit, ku dorong tubuh nya hingga keluar pintu kamar, ku kumpulkan pakaiannya yang telah ku lucuti sebelum kami hendak bercinta tadi, ku lempar ke tubuhnya, ku banting pintu kamar ”Kamu itu hujan yang justru membuat hati ku diselimuti mendung” isak ku dari balik pintu.
Sudah jam setengah enam sore, kuhempaskan tubuh kaku ku ke sandaran kursi, ”emhhh… pegel gilaaaa” ujarku sambil meregangkan otot. ”Bro, gue cabut duluan yach, dah gak ada kerjaan, gue mo tidur cepet, pegel badan gue.”. Simon yang berada di cubicle depan ku hanya mengacungkan jempol saja. Kurapikan meja kerja ku, ku sambar ransel hitam, jaket, dan helm putih ku. ”Mas Arya, tadi Dito dah telp Mas Arya belum?” cegat Nanda receptionist di kantor ku. ”Udah, Payah pacar loe, motornya kelewat antik, minta di pensiunin tuch.”. ledek ku. ” Ach Mas Arya, biar antik, kan motor itu yang nganter jemput Nanda. Maaf yach, Nanda jadi minjem motor Mas, Nanti biar Dito anterin ke sini lagi deh motornya.” terang nya. ” Gak usah, Nanti biar gue nganter loe sampe puteran, Dito dah nunggu di situ, biar dia yang bawa motor gue, Gue mo naik bis aja.” Jelas ku. Nanda terlihat sumringah ”wah, makasih mas, mas baik deh” rayu nya. ”yaudah, gue tunggu didepan yach Nan, cepetan, jangan lama-lama” ajak ku. ”iya mas, bentar Nanda ambil jaket dulu” Nanda berlari menuju mejanya.
Tidak lebih dari lima menit Nanda sudah menyusul ku, teman-teman kantor yang lain juga masih ada di depan kantor ini, ku sempatkan menyapa mereka, ”cabut bro”. ”bentar lagi, ngabisin sebatang dulu nih” jawab mereka. Ku pandangi Nanda yang masih sibuk dengan barang bawaannya. ”Buset Nan, gembolan lo banyak amat, bawa apa aja sih?” tanya ku. Nanda tidak menjawab, dan hanya manyun-manyun saja. Dengan barang bawaan yang banyak, Nanda terlihat kerepotan sekali, aku menolongnya memegangi helm putihnya, sambil dia berusaha mengeluarkan jaket dari sela tasnya. ”Mas, helm Nanda dong, jaketnya pegangin dulu yah, hehehe” pintanya manja. ”loe niy, udah minjem, nyuruh-nyuruh lagi” sungut ku, Nanda hanya cengengesan saja. Kuserahkan helm miliknya, dan ku pengangi jaketnya, mataku menyapu jalanan didepan kantor, diseberang jalan ku lihat seseorang sedang menyandarkan motornya di pinggir jalan, melepas helmnya, dan merapikan rambutnya yang tidak terlalu panjang. ”Anggia ?! ngapain dia di situ?” tanya ku pada diri ku sendiri. ”Siapa mas?” tanya Nanda, ”Cewe gue” jawab ku tanpa melepas pandangan dari Anggia, dengan jarak yang cukup jauh, aku yakin, kalau Anggia tidak terlalu sadar kalau aku memperhatikannya. ”cieh, dah punya cewe, ich gak ngenalin ke Nanda niy, gak disamperin mas?”. ”Ntar kalo dah resmi jadi cewe gue, baru gue kenalin, gue nganter loe dulu, gue dah janji sama Dito, hayo buruan!” ajak ku. Kupacu motor ku perlahan, ku ingin bisa memandang wajah Anggia diseberang jalan.
Putaran, Anggia ada disitu, disebelah motornya, tatapannya kosong, hati ku berdegub ketika melewatinya, ”Anggia, ngapain kamu di depan kantor ku? berani sekali kamu, aku saja tak punya nyali untuk menemui mu.” batin ku. Wajah ku tertunduk, aku jatuh cinta padanya, namun aku tak bernyali akan dia, Anggia terus menatap ku melewatinya, matanya seakan menembus helm fullface yang ku kenakan, aku tak sanggup, aku jatuh cinta padanya. Tunggu aku di sini Anggia, ku mohon tunggu aku.
Dito sudah berada di depan kantornya yang tidak jauh dari kantor Nanda, ”Dit, lo bawa motor gue aja, jagain !!” peringat ku. ” Iya mas, nanti gue anter ke rumah apa ke kantor niy?, ”gak usah, lo bawa aja, besok lo anter ke kantor gue yach.” Aku bergegas meninggalkan mereka, aku mengejar Anggia, aku berharap dia masih disana, semoga.
Jantuk ku tersentak, dilihatnya Anggia sudah memacu motornya, ”sial, mau kemana dia, gue nyusul pake apa? Aku hanya memandangi nya yang terus memacu motornya perlahan. ”heh, kok dia masuk ke Taman?”, ”Damn, terima kasih ya Gusti Allah!!” teriak ku tertahan, ku berlari menyusulnya, etah apa yang akan ku katakan padanya nanti, aku tak peduli, aku hanya ingin menatapnya.
”Gusti, beri aku nyali, ku mohon”, ku ambil hp di saku celana ku, ku ketik cepat. ”D mn mba?” messege sent, ”semoga dia membalas” ku pejamkan mata. Rett..rett… ” d jln” messege recceive, ”telp aja ah” . ku tarik nafas. ”halo, mau pulang yach mba?” ujar ku. ”emh.. belom, masih di jalan” dia jawab dengan ketidak yakinan. ”kita pulang bareng aja, dari pada duduk sendirian ditaman kaya gitu” ledek ku. Anggi langsung memalingkan tubuhnya kehadapan ku, lucu sekali melihat wajah bingungnya, ”loh bukannya tadi…” Anggi terus saja kebingungan. Ku hampiri dia, ku tarik lengannya ”Itu temen saya, hayo saya nebeng, motor dipinjem tadi”. Nyali ku tak seberapa, tapi aku ingin bersama nya.
Anggia memandang Arya di seberang jalan, ini pertama kalinya Anggi memberanikan diri untuk bertemu dengan Arya, dia memacu cepat motornya untuk menemui Arya di kantornya. tapi sebelum sempat Anggi memutar balik motornya, dia melihat Arya meninggalkan kantor dengan seorang perempuan. Aneh rasanya Anggi melihat Arya memberikan helm putih kepada perempuan itu, dan memegangi jaket perempuan itu. Rasanya perempuan itu tidak hanya menumpang motor Arya, pasti perempuan itu memang sebagai penumpang tetap motor Arya. Melihat Arya membawa helm cadangan dan perempuan itu membawa jaket.
Anggi menyandarkan motornya, melepas helm dan merapikan rambutnya, tak lepas matanya terus memandang Arya yang asik bercengkrama dengan beberapa teman laki-lakinya yang sepertinya juga akan meninggalkan kantor sambil menunggu perempuan itu memakai jaketnya. Arya pun memacu motornya perlahan, seperti tak ingin membuat perempuan itu takut bila ia memacu motornya kencang. Mata Anggia tak lepas dari sosok Arya, hingga Arya memutar balik motornya dan melewati Anggi di hadapannya. Arya pun berlalu tanpa pernah tahu.
Anggia memarkir motornya di sebuah taman yang tak jauh dari kantor Arya, ia berjalan perlahan memasuki taman itu, tangannya merogoh saku jaket, didapatinya sebatang rokok disitu, ingin sekali ia menghisapnya, tapi ia tak bisa. Ia menghempaskan tubuhnya di sebuah kursi yang nampak tak indah lagi. Terdiam, kosong dengan kehampaan yang terbawa oleh sosok Arya yang tadi melewatinya.
Rett…rettt.. handphone di saku Anggi bergetar, sebuah sms dari Arya diterima. ”lah bukannya arya tadi baru jalan?” lirihnya. ”d mn mba?”.. isi nya, Anggi pun mengetik balasannya, ”D jln”. Selang tak berapa lama handphone Anggi bergetar lagi, kali ini telp dari Arya. ”halo, mau pulang yach mba?” ucapnya. ”emh.. belom, masih di jalan” jawab Anggi. ”kita pulang bareng aja, dari pada duduk sendirian ditaman kaya gitu”, ujar Arya. Anggi pun tercengang, ia memalingkan tubuhnya kebelakang dan tertegun. ”loh bukannya tadi…” Anggi berujar kebingungan. ”Itu temen saya, hayo saya nebeng, motor dipinjem tadi” Arya menarik lengan Anggi. Anggi tak bisa berkata-kata, hanya tersenyum entah karena apa.
~N~
”bunda sedang apa? ”
”merapikan tempat tidur ayah sayang”
”kenapa disini bunda?”
”biar tidak ada yang ganggu”
”tapi kan disini dingin bunda?”
”kalau sudah didalam tidak dingin lagi sayang”
”itu kenapa ayah diikat?”
”supaya dia tidak kemana-mana”
”bunda?”
”sudah jangan tanya-tanya lagi, ayo bantu bunda angkat ayah, terus timbun dengan tanah”
~N~